Selasa, 06 September 2016

8 Cara Membangun Mental Penulis

Tags

Menjadi penulis bukanlah hal yang mudah. Dari dulu, sastrawan kita, hingga kini, penulis sulit untuk mendapatkan tempat. Layaknya seorang artis, mereka yang benar-benar berkualitas saja yang bisa dikenal dengan baik di mata masyarakat. Ya, mau bagaimana lagi. Tidak hanya di Indonesia, di negara lain juga begitu. Perbedaannya terletak pada minat baca. Di Jepang dan Korea misalnya, minat baca anak mudanya tinggi. Bagi mereka pekerjaan, passion, jalan hidup untuk menjadi penulis bukanlah hal yang mustahil. Lantas bagaimana dengan kita? Siapkah kamu untuk menjadi penulis?

Di artikel ini, saya akan membahas mental menjadi penulis. Kita akan bahas, kurang dan lebihnya menjadi penulis di Indonesia yang pernah saya alami. Jadi, persiapkan dirimu ya.


Penulis Adalah Pekerjaan Paling Bebas


8 Cara Membangun Mental Penulis

Ya, bebas waktunya, silahkan menulis kapan saja. Suka-suka kamu ingin menulis di pagi hari atau menjelang tidur. Bebas tempatnya. Mau disela-sela jam istirahat kuliah atau bekerja di kantor. Mau di rumah juga bisa. Di kafe kopi? Bisa juga. Bebas berkarya. Mau menerbitkan 1 buku sekali dalam 1 tahun boleh. Mau rutin setiap 3 bulan sekali juga boleh. Bebas deh.

Hanya saja, bebas bukan berarti tanpa tanggung jawab. Saya biasanya menerbitkan buku 1 tahun 1 kali. Cenderung lambat, dengan hasil yang pasti juga tidak memuaskan. Namun, sekali lagi, itu semua tanpa beban. Taruh kesenangan, hobi, dan passion nomer 1 sebelum memilih pekerjaan sebagai penulis. Karena banyak sekali rintangan yang akan kamu hadapi dalam kebebasan bekerja ini.

Penulis Adalah Pelari Jarak Jauh


8 Cara Membangun Mental Penulis

Dari pengalaman Haruki Murakami penulis Norwegian Wood, dirinya bercerita bahwa penulis adalah pekerjaan layaknya pelari jarak jauh. Butuh tenaga yang ekstra melebihi pekerjaan yang lain. Karena kita tidak bisa menulis dalam waktu 1 hari selesai 1 buku. 1 Bulan pun tetap akan mengalami kendala. Belum harus di edit, belum harus masuk daftar antrian penerbit selama 3 sampai 6 bulan. Jika tidak siap, baru selesai 1 naskah saja kita sudah merasa lelah dan menganggap menjadi penulis sangat mustahil terjadi.

Pikirkanlah lagi, kuatkan mentalmu. Bulan ini target 1 buku jadi, bagus. Tapi belum selesai langkahmu. Kamu harus mengedit sehingga tidak ada lagi kesalahan tanda baca ataupun kata yang salah hurufnya. Masukkan ke penerbit, menunggu lagi. Sembari menunggu, cek lagi naskahmu kalau perlu edit lagi. Karena jika nanti ditolak oleh penerbit, kamu siap dengan naskah yang sama dengan kualitas yang lebih baik. Begitu seterusnya hingga terbit. Setelah terbit? Menulis lagi. Begitu seterusnya. Lelah? Ya, saya sudah menerbitkan 3 buku pun lelah. Tapi inilah dunia penulis. Kenyataan tidaklah seperti yang banyak dibicarakan orang lain.


Bangun Kebanggaan Diri


8 Cara Membangun Mental Penulis

Banggakan dirimu, bangun percaya diri. Tingkatkan Will Power, kekuatan keinginan untuk terus menulis. Pekerjaan menulis yang cenderung bebas memang sulit dianggap pekerjaan. Di mata teman-temanmu, kamu akan kehilangan topik obrolan dengan cepat. Di mata orangtua, kamu akan sulit untuk membuktikan hasil jerih payahmu. Di mata kekasihmu sendiri, kamu akan sulit menebar janji-janji untuk membahagiakannya.

Hanya saja, semua ada waktunya. Di 3 buku yang pernah saya tulis memang tidak merasakan dampak yang berarti. Tapi bagaimana dengan buku ke empat, ke lima, ke enam? Penulis besar di Indonesia tidak ada yang hebat dalam sekali menerbitkan buku. Dirinya akan terus menerus menerbitkan buku hingga tiba di satu titik, karyanya dianggap berhasil oleh pembaca. Dan sekali lagi, itu pekerjaan lari jarak jauh. Bisa memakan waktu bertahun-tahun. Tapi, tetaplah bangga pada dirimu sendiri. Karena karyamu, kamu berhasil masuk dalam sejarah di Indonesia. Ya, sejarah yang bisa ditelusuri dari karya yang telah terbit dalam bentuk buku.

Berhenti Berpikir Negatif


8 Cara Membangun Mental Penulis

"Penulis? Emang berapa gajimu?" atau pertanyaan seperti ini, "penulis? Sudah best seller?" Orang-orang tahu bahwa menjadi penulis bisa menjadi kebanggaan yang tidak terkira. Layaknya menjadi seorang penyanyi, menulis sebuah lagu adalah kesulitan tersendiri. Belum lagi harus memadupadankan dengan nada-nada yang ada. Pekerjaan tidak selesai sampai merekam suara saja. Tapi hingga pembuatan video klip. Bahkan untuk biaya rekaman di studio yang bagus dan membuat video klip biayanya bisa puluhan juta rupiah. Itu saja, belum tentu terkenal.

Jadi, berhentilah berpikir negatif. Buang jauh-jauh apa itu tidak sukses, tidak diterima penerbit, tidak best seller. Sebisa mungkin segera menulis saat pikiran negatif itu muncul. Sehingga kamu tidak lagi harus memikirkan hal yang ada di masa depan. Kerjakan saja apa yang ada saat ini. Tulis saja dan jadikanlah sebuah karya apa yang ada saat ini.

Mulailah Dari Hal Paling Kecil


8 Cara Membangun Mental Penulis

Menulis 1 bab mungkin sulit. Biasanya jika 1 buku terdiri dari 100 halaman, 1 bab maka berisi 10 halaman. Jika sulit, cobalah dulu untuk menulis 1 paragraf. Tulis dalam jumlah banyak untuk menemukan paragraf yang tepat yang bisa kamu lanjutkan menjadi 1 bab utuh. Atau mulailah dari komponen lain yang membuatmu mudah melakukannya. Semisal, menulis deskripsi tokoh utama dan semua tokoh yang ingin kamu masukkan dalam cerita tanpa perlu memikirkan jalan ceritanya. Atau bisa juga tulis jalan ceritanya, tiap bab harus terjadi apa, tanpa perlu pusing soal gambaran tokohnya.

Mudahkanlah aktifitas menulismu. Jika mudah di pagi hari, jangan memulai menulis di malam hari. Begitu juga sebaliknya. Lebih baik memulai dari yang mudah dibandingkan dengan yang susah. Nantinya kamu akan berjalan dengan sendirinya, rencanamu sedikit demi sedikit akan menjadi bukit dan tidak terasa menjadi sebuah buku. Mulailah dari sekarang, dan jangan pernah takut untuk terus memulai dari hal paling sederhana.

Rayakan Keberhasilanmu


8 Cara Membangun Mental Penulis

Saya biasanya suka sekali menulis kumpulan cerpen. Kenapa lebih mudah dibandingkan membangun 1 buku novel. Setelah selesai menulis kumpulan cerpen yang terdiri dari 12 sampai 20 cerita berbeda, saya rayakan keberhasilan itu. Hal itu membantu membangun mental menjadi seorang penulis menjadi lebih baik. Misalnya nih. Kamu harus puasa untuk tidak membeli novel baru, tidak menonton film baru di bioskop, tidak hangout dengan temanmu atau pacarmu setelah menyelesaikan 1 bab atau 1 buku. Hal ini bisa mendorongmu untuk terus berpikir dan terus menulis.

Pencapaianmu yang sedikit demi sedikit kamu rayakan akan membangun mental untuk terus berjuang. Jika kamu menetapkan target terlalu tinggi untuk merayakan keberhasilanmu, mentalmu akan merasakan lelah luar biasa karena penantian tidak kunjung datang. Banyak orang yang mencoba menjadi penulis mengambil langkah yang salah. Dirinya akan merayakan keberhasilan setelah bukunya terbit atau setelah best seller. Hingga akhirnya menyerah ditengah jalan lebih cepat dibandingkan mereka yang merayakan keberhasilannya sedikit demi sedikit.

Komitmen dan Konsisten


8 Cara Membangun Mental Penulis

Jika diakhir pekan menulis, maka menulislah. Jika di waktu pagi menulis, menulislah. Tidak ada lagi alasan, tidak ada lagi kemalasan. Setiap komitmen akan berat diawal. Setiap konsisten membutuhkan niat yang kuat. Tapi jika kamu berhasil melakukannya, kamu akan mendapatkan hasilnya diluar perkiraanmu. Layaknya anak sekolah. Kemalasan berangkat sekolah di hari senin. Kemalasan belajar untuk ujian. Tapi jika sudah libur panjang, libur pergantian semester, senangnya bukan main. Bayangkan jika dari awal sekolah sudah jarang masuk karena malas. Libur panjang juga rasanya biasa saja. Ya karena sudah sering meliburkan diri.

Itulah yang dinamakan "upah setelah bekerja". Di awal bulan, setiap karyawan dan pegawai akan bersusah payah membangun mental kerja keras dan semangat. Tapi mendekati pertengahan bulan, hal itu sudah bisa diatasi. Mendekati akhir bulan, senang akan datang tanpa diundang. Lalu gajian di bulan berikutnya akan didapati dengan suka cita. Sederhana kan? Komitmen dan konsisten tidak akan terasa lagi jika kamu sudah memulai dan tetap menjaga diri untuk terus menulis.

Selalu Ada yang Terganti


8 Cara Membangun Mental Penulis

Ingat, penulis baru muncul terus menerus. Penulis atau novelis yang kamu idolakan juga nantinya akan terganti dengan penulis baru. Begitu seterusnya. Lalu apakah kamu cuma ingin menjadi pembaca saja? Apakah tidak ingin ikut ambil bagian sebagai pengganti idolamu? Bangun mental untuk ikut dalam dunia tulis menulis. Bisa jadi tahun depan kamu termasuk dalam anggota penulis yang berpengaruh di tahun 2017. Toh, tidak ada yang tahu bukan?

Pikirkan saja bahwa karya yang fenomenal sepanjang masa sekalipun tetap akan dilengkapi dengan karya-karya baru. Sebelum mengenal Lord Of The Rings apakah tidak ada buku yang bagus tentang petualangan? Begitu juga sebelum ada karya Raditya Dika apakah tidak ada buku yang lucu? Ada loh. Banyak sekali. Itulah alasan saya mengajakmu untuk terjun menjadi penulis. Menjadi bagian untuk melengkapi karya-karya yang sudah ada. Sehingga pilihan buku semakin variatif tidak hanya dari penulis yang itu-itu saja.

Nah, bagaimana? Sudah siap untuk menjadi penulis? Ayo baca lagi dan renungkan lagi. Bangun mental penulismu segera dan jadilah penulis berikutnya.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon